Padalarang, Kabupaten Bandung Barat - Pemerintah Desa Tagog Apu, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, bersama Puskesmas Tagog Apu dan unsur terkait melaksanakan Rapat Koordinasi dan Evaluasi Desa Siaga Tuberkulosis (TB), bertempat di Aula Kantor Desa Tagog Apu, Jumat (11/09/2026).
Kegiatan tersebut diikuti Kepala Puskesmas Tagog Apu Bapak Ade Muchlis, S.Kep., Ners., Pengelola Program TB Puskesmas sekaligus Fasilitator TBC NS.Yunaita Prwidyaningtyas, S.Kep, dokter Widia ( dokter Puskesmas Tagog Apu ), Sekretaris Desa Tagog Apu Ayi Kosasih, Plh.Babinsa Desa Tagog Apu Serma Nana Herdiaman, Kasi Pemerintahan Desa Tagog Apu Mulyana, Bidan Desa Tagog Apu Rini, S.Keb., Para Kepala Dusun se-Desa Tagog Apu, Karang Taruna Desa Tagog Apu Willy H, kader penyakit TB Imas dan Yunengsih, pengurus PKK Desa Tagog Apu Titin.
Rapat koordinasi dan evaluasi ini membahas perkembangan penemuan kasus TB di wilayah Desa Tagog Apu, termasuk jumlah terduga TB dan kasus yang telah ditemukan. Selain itu, dilakukan evaluasi terhadap pelacakan serta pemeriksaan kontak erat pasien TB sebagai upaya mencegah terjadinya penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Pembahasan juga mencakup pemantauan pengobatan pasien TB, terutama kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat hingga pengobatan dinyatakan selesai. Berbagai kendala di lapangan turut menjadi perhatian, antara lain pasien yang sulit diperiksa, risiko putus obat, stigma di tengah masyarakat, serta keterbatasan pelayanan.
Kepala Puskesmas Tagog Apu Ade Muchlis, S.Kep., Ners., menyampaikan bahwa keberhasilan penanganan TB membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari fasilitas kesehatan hingga pemerintah desa dan masyarakat.
“Penanganan TB tidak cukup hanya dengan mengobati pasien. Penemuan kasus secara dini, pemeriksaan kontak erat, kepatuhan menjalani pengobatan, serta edukasi kepada masyarakat harus dilakukan secara bersama-sama agar mata rantai penularan dapat diputus, ” ujar Ade Muchlis.
Sementara itu, Pengelola Program TB Puskesmas sekaligus Fasilitator TBC NS.Yunaita Prwidyaningtyas, S.Kep, menekankan pentingnya peran kader dalam membantu petugas kesehatan menemukan kasus secara aktif dan melakukan pendampingan terhadap pasien.
“Kader Desa Siaga TB memiliki peran penting dalam penyuluhan, pelacakan kontak, pendampingan pasien, dan pelaporan. Dengan koordinasi yang baik, diharapkan kasus TB dapat ditemukan lebih cepat dan pasien dapat menyelesaikan pengobatan secara tuntas, ” ungkap Yunaita.
Sekretaris Desa Tagog Apu Ayi Kosasih mengatakan, Pemerintah Desa Tagog Apu siap mendukung pelaksanaan program Desa Siaga TB melalui penguatan koordinasi dan pemberdayaan masyarakat.
“Pemerintah Desa Tagog Apu akan terus mendukung program penanggulangan TB dengan memperkuat koordinasi bersama Puskesmas, kader, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan seluruh unsur masyarakat. Kami berharap masyarakat tidak takut untuk memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada TB, ” kata Ayi Kosasih.
Di tempat yang sama, Plh. Babinsa Desa Tagog Apu Serma Nana Herdiaman menyampaikan bahwa TNI melalui Babinsa siap membantu pemerintah desa dan tenaga kesehatan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pencegahan serta penanggulangan TB.
“Kami siap membantu menyosialisasikan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, etika batuk, menjaga ventilasi rumah, serta mengajak masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien TB untuk mengikuti pemeriksaan. Pencegahan penularan harus dilakukan secara bersama-sama, ” tutur Serma Nana Herdiaman.
dokter Puskesmas Tagog Apu ( dr.Widia ) juga menyatakan pentingnya sinergi lintas sektor dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak terjadi stigma terhadap pasien TB.
“Kami mendukung upaya bersama dalam penanggulangan TB, khususnya dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat agar pasien tidak dikucilkan. Dengan dukungan lingkungan yang baik, pasien akan lebih termotivasi untuk menjalani pengobatan sampai tuntas, ” ujarnya.
Danramil 0909/Padalarang Mayor Inf Aang Purtoni menegaskan bahwa Babinsa akan terus bersinergi dengan pemerintah desa dan tenaga kesehatan dalam mendukung program kesehatan masyarakat.
“Kami menginstruksikan jajaran Babinsa untuk terus membangun komunikasi dan membantu kegiatan kewilayahan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Penanganan TB membutuhkan kepedulian bersama dan partisipasi aktif masyarakat, ” tegas Mayor Inf Aang Purtoni.
Sementara itu, Dandim 0609/Cimahi Letkol Kav Chandra Alit Saputra, S.Sos., menyampaikan bahwa keterlibatan aparat kewilayahan merupakan bagian dari upaya mendukung program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
“Kodim 0609/Cimahi mendukung setiap upaya yang bertujuan meningkatkan kesehatan masyarakat. Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, aparat kewilayahan, kader, dan masyarakat harus terus diperkuat sehingga penanganan TB dapat berjalan secara optimal, ” ungkap Letkol Kav Chandra Alit Saputra.
Komandan Korem 062/Tarumanagara Kolonel Inf. Dadi Sutandi, S.E., M.M., menekankan pentingnya koordinasi dan kesinambungan program di tingkat kewilayahan.
“Upaya pencegahan dan penanganan TB harus dilaksanakan secara terpadu, berkelanjutan, dan menyentuh langsung masyarakat. Setiap unsur memiliki peran strategis dalam membantu menemukan kasus, mendampingi pasien, serta mencegah terjadinya penularan, ” kata Kolonel Inf. Dadi Sutandi.
Senada dengan hal tersebut, Pangdam III/Siliwangi Mayor Jenderal TNI Kosasih, S.E., M.M., menegaskan pentingnya kepedulian seluruh komponen masyarakat dalam mendukung program kesehatan pemerintah.
“TNI melalui jajaran kewilayahan akan terus mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Mari bersama-sama membangun kesadaran untuk melakukan pencegahan, pemeriksaan secara dini, dan memastikan pasien TB menjalani pengobatan sampai tuntas, ” tegas Mayor Jenderal TNI Kosasih.
Dalam rapat tersebut, peserta juga mengevaluasi peran kader Desa Siaga TB dalam melaksanakan penyuluhan, pendampingan, pelacakan, serta pelaporan kasus. Edukasi kepada masyarakat mengenai gejala TB, cara penularan, langkah pencegahan, pentingnya pemeriksaan, dan kepatuhan terhadap pengobatan menjadi salah satu fokus pembahasan.
Selain itu, koordinasi lintas sektor antara Pemerintah Desa Tagog Apu, Puskesmas Tagog Apu, kader, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta unsur terkait lainnya terus diperkuat untuk mencapai target program Desa Siaga TB.
Kegiatan ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut guna meningkatkan penemuan dan penanganan kasus TB di wilayah Desa Tagog Apu. Upaya pencegahan penularan juga akan terus didorong melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, etika batuk, peningkatan ventilasi rumah, serta pemeriksaan bagi anggota keluarga atau kontak erat pasien TB.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan sinergi seluruh unsur di wilayah Desa Tagog Apu semakin kuat sehingga penanggulangan TB dapat dilaksanakan secara terpadu, cepat, tepat, dan berkelanjutan demi mewujudkan masyarakat yang sehat serta bebas dari penularan tuberkulosis.

Nana Herdiaman